Selasa, 23 Februari 2016

Habitat Ikan Arwana


Tipe habitat Arwana dapat dikelompokkan menjadi 4, menurut Satria dan Kartamihardja (2010) keempat tipe habitat tersebut adalah

  • Tipe habitat rawa banjiran
  • Tipe habitat rerumputan
  • Tipe habitat semak belukar yang terendam
  • Tipe habitat yang terbentuk dari ranting dan pohon yang tumbang.



Arwana termasuk ikan karnivor yang mendiami habitat sungai dan danau berair tenang. Kadang juga ditemukan di riam yang berarus kuat. Daerah tepian sungai yang ditumbuhi banyak pohon hutan dengan akar yang terjulur di dalam air dan dedaunan yang rimbun di atasnya menjadi habitat favorit bagi Arwana. Habitat tersebut umumnya menyediakan banyak makanan dan daerah perlindungan yang baik. Arwana hidup pada kisaran derajat keasaman (pH)  6-7 dan pada kisaran suhu 26-30­oC.

Arwana Super Red


Cirinya adalah sisik yang berkilau memancarkan sinar warna merah seperti permata mirah delima. Selain itu tidak terdapat cacat pada bagian tubuhnya. Sirip yang rapih dan tidak juling pada matanya. Orang-orang biasa menyebutnya dengan istilah Le Tiaw Lung sang pembawa keberuntungan.

Arwana Golden Red


Jenis ini memiliki sisik yang indah setara dengan Arwana Super Red, dengan sisik yang berkilau kuning keemasan. Sisik yang berwara cokelat muda juga pada bagian ring sisik tampak kuning keemasan. Seluruh bagian siripnya memiliki warna kuning kecokelatan dengan bentuk tubuh yang lebar dan tebal. Selain itu cara berenangnya yang santai, tenang, dan berwibawa. Matanya juga selalu memandang ke arah atas juga sungutnya yang berwarna cokelat muda mengarah ke atas, ikan jenis ini juga disebut Golden Dragon atau sang naga emas.

Arwana Banjar Red



Ikan ini memiliki warna kuning kehijauan pada bagian tubuhnya dan berwarna merah pada bagian sirip oleh karena itu disebut juga Red Fin Arwana atau Arwana sirip merah. Ketika akan membeli Arwana Banjar Merah perhatikan juga pada bagian matanya Arwana jenis ini juga rentan terhadapat mata juling.


Siluk sirip merah adalah nama lokal ikan ini, Arwana ini berasal dari Kalimantan Barat tepatnya sungai Kapuas Hulu, Pontianak. Ikan ini disebut sang naga sirip merah jika memiliki sisik yang tersusun rapi pada bagian punggungnya dan ukurannya sama besar.

Arwana Dicincinmu..

Apa tak terlalu besar jika arwana di tangan? Apa tidak alay jika ada bendabesar di jari.. itu aneh, iya kan?


Beberapa tahun belakangan pamor batu akik melejit. Apalagi batu akik ini memiliki keunikan dengan motif ataupun gambar yang berada di dalam batu. seperti batu akik Khas Kalimantan Barat ini, namanya batu lavender.

Warna putih susu dengan campuran keunguan ini menyebabkan batu akik ini kian diburu kolektor. Namun yang membuatnya istimewa, batu lavender ini bergambar ikan arwana super red yang berada di dalam batu. 


Uniknya, corak gambar di batu ini tiga dimensi, dimana di tengah batu bergambar ikan arwana ini tampak hidup seperti nyata yang memiliki sirip dan mata.

Pemilik batu akik unik adalah Jayus Agustono. Pria berusia 38 tahun, warga Gang Sederhana Nomor 20, Jalan Parit Haji Husin Satu,Pontianak,Kalimantan Barat mengaku awalnya tak menyangka memiliki batu akik lavender bergambar ikan arwana ini.

"Awalnya saya hanya dikasih sama teman berupa bongkahan batu. Bongkahan batu ini kemudian saya bawa ke tempat pengasah batu juga milik seorang teman, setelah diantar ke rumah pada malam hari, keesokan paginya saya tak menyangka salah satu batu ini bergambar ikan arwana 3 dimensi," kata pemilik batu unik, Jayus Agustono, kepada detikcom saat ditemui di rumahnya, Rabu (18/3/2015).

Batu akik bercorak gambar ikan arwana ini pun langsung menarik perhatian pencinta batu akik. Bahkan beberapa fotonya yang disebar media sosial, langsung mendapat respon yang luar biasa dari pencinta batu akik. "Pernah ada yang menawar batu akik bergambar ikan arwana ini seharga Rp 24 juta, namun saya belum mau melepasnya. Entah kenapa, padahal batu ini saya peroleh tak sengaja," ujarnya pria dengan kepala plontos ini. Saat ini, batu bergambar ikan arwana ini masih disimpannya, bahkan sering digunakanya di jemari tangannya karena telah diikat dengan ring cincin.

"Kalau ada yang berani membayar lebih tinggi, tentu akan saya lepas, itu pun kalau cocok harganya" tuturnya.

Jayus yang juga pencinta sepeda ontel bahkan menjabat ketua perhimpunan pencinta sepeda ontel Pontianak (sepok) ini awalnya bukanlah sosok pengemar batu akik. Pria yang memiliki jiwa seni melukis ini hanyalah mengikuti trend batu akik yang saat ini terus melejit. Setiap diberi bongkahan batu, biasanya langsung diasahnya kepada pengrajin batu akik yang kini mulai menjamur di Pontianak seiring meningkatnya pamor batu akik saat ini. "Kalau dari sisi nilai seni batu akik bergambar arwana ini, tentu harga selangit pun tak sebanding dengan nilainya. 

Namun jika ada yang menawar hingga Rp 40 juta, saya bersedia melepasnya," selorohnya. Ikan arwana sendiri merupakan ikan asli khas Kalimantan Barat. Ikan ini banyak dipelihara dan dibudidayakan karena harganya yang tinggi dipasaran sebagai ikan hias. Bahkan sebagian warga percaya, memelihara ikan arwana memberikan keuntungan tersendiri atau pembawa hoki. Wajar, ikan arwana tak pernah kalah pamor dengan ikan hias jenis apapun.

10 Tips Budidaya Ikan Arwana

  1. Induk dipelihara dalam kolam berukuran 5x5 m dengan kedalaman air 0,5-0,75 m. Kolam ditutup plastik setinggi 0,75 m untuk mencegah lompatan ikan.
  2. Ruangan pemijahan dibangun di pojok perkolaman dan ditambah beberapa kayu gelondongan untuk memberikan kesan alami. Hindari batu dan kerikil karena dapat melukai ikan atau tercampurnya pakan secara tidak sengaja.
  3. Kolam pembesaran dibangun di area tenang dan ditutup sebagian. Jauhkan dari sinar matahari lansung. Induk dipelihara dalam kolam pembesaran hingga mencapai matang atau kelenjar kelamin.
  4. Kualitas air dijaga agar mendekati lingkungan alami arwana yaitu pH 6,8-7,5 dan suhu 27-29 C. Penggantian air dilakukan sebaganyak 30-34% dari total volume dengan deklorinisasi atau air tersebut sudah dicampur zat untuk membunuh kuman dalam air.
  5. Keseimbangan gizi sangat penting bagi pemijahan dan kematangan gonad. Pakan diberikan setiap hari dalam bentuk ikan atau udang hidup, dan ditambah pelet dengan kadar protein 32%. Jumlah pemberian pakan per hari adalah 2% dari bobot total tubuh.
  6. Inkubasi telur secara normal butuh 8 minggu. Untuk memperpendek waktu, telur yang sudah dibuahi dapat dikeluarkan dari mulut penjantan satu bulan setelah pemijahan. Induk jantan ditangkap dengan sangat hati-hati dengan jaring halus, lalu diselimuti dengan handuk katun yang basah untuk menghindari ikan memberontak dan terluka. Ikan yang sudah terluka akan cacat hingga harganya turun.
  7. Untuk melepaskan larva dari mulut induk jantan, tarik perlahan bagian bawah mulut dan tubuh ditekan ringan. Larva dikumpulkan dalam wadah plastik dan diinkubasi dalam akuarium. Jumlah larva yang dapat mencapai 25-30 ekor.
  8. Setelah dikeluarkan dari mulut pejantan, larva diinkubasi dalam akuarium berukuran 45 x 45 x 90 cm. Temperatur air 27-29 derajat celcius. diukur menggunakan pemanas thermostat.
  9. Ukuran mencegah arwana terkena infeksi akibat penanganan larva, larutkan acriflavine atau disinfektan dalam air sebanyak 2 tetes.
  10. Selama peroide inkubasi, larva tidak perlu diberi pakan. Beberapa minggu pertama selama kuning telur belum habis, biasanya larva hampir selalu berada pada dasar akuarium.

Ikan Kebanggaan Indonesia

Berbeda dari louhan yang dikuasai para breeder Malaysia, atau koi yang dipopulerkan orang-orang Jepang, arwana justru merupakan ikan hias kebanggaan Indonesia. Para penggemar di seluruh dunia juga mengakui kualitas arwana Indonesia sebagai yang paling bagus. Tak heran apabila banyak penggemar ikan hias dari mancanegara yang berusaha mendapatkannya langsung dari Indonesia.

Di Indonesia, arwana memiliki berbagai julukan, antara lain ikan naga, barramundi, saratoga, siluk, kelesa, kayangan, peyang, tangkelese, aruwana, dan arwana. Sebenarnya Indonesia bukan satu-satunya negara yang memiliki plasma nuftah bernama arwana. Bahkan, Brasil disebut-sebut pula sebagai negeri leluhur ikan hias ini, meski ada juga yang menyebut Australia.

Tapi arwana dari Indonesia inilah yang paling moncer di seluruh dunia. Apalagi di negara kita banyak tersedia puluhan varietas, yang biasanya ditandai dengan perbedaan warna, mulai dari perak, emas, hitam, hijau, sampai merah. Pusat pembudidayaan terbesar terdapat di sekitar Sungai Kapuas, Pontianak, serta Pekanbaru.

Sebagan besar pedagang di Indonesia mengambilnya dari sana, tak terkecuali Andre Aquarium, salah satu pedagang arwana terbesar di Semarang. "Tetapi tidak semua pembudidaya memiliki koleksi berkualitas. Ya, kita harus pandai-pandai memilih dan melacak pusat pembudidayaan yang berkualitas," kata Andre, pemilik showroom ikan hias itu, saat ditemui di kantornya, Jl Tanjung Mas Raya A-29 Semarang.


Showroom ini memang hanya menyediakan arwana kelas A, karena pasar dan kualitas ikan memang jelas. Arwana super red kelas A, misalnya, dijual dengan harga Rp 9 juta/ekor. Padahal, ukurannya sekitar 20 cm. Biasanya, ikan seukuran itu rata-rata dijual dengan harga Rp 6 juta sampai Rp 7 juta per ekor. "Itu super red yang biasanya, yang pada umur tersebut masih polos. Sedangkan arwana kualitas A sudah keluar ring (sisik-sisik berwarna-Red)," jelas Andre, yang juga menciptakan sendiri akuarium khusus arwana, dengan menggunakan sistem tanpa kuras.

Pengusaha muda ini memang sangat jeli dalam menangkap peluang. Ketika terjadi booming louhan, ia pun aktif berburu langsung ke Malaysia, dan khusus menghadirkan louhan kualitas A. Begitu juga ketika arwana kembali dicari para penggemar, ia langsung berburu ke Kalimantan.

Saat ini, super red menjadi primadona yang menjadi rebutan para penggemar. Tak heran jika banyak toko ikan kehabisan stok. Padahal, harga ikan berukuran 10-12 cm saja sudah sangat malah, antara Rp 4,5 juta sampai Rp 5,5 juta. Jika kondisi fisiknya sempurna, harga bisa lebih mahal lagi.


Melihat harga arwana yang tidak murah, para penggemar toh tak ambil pusing. Buktinya banyak penggemar yang memelihara arwana berkelas dalam akuarium yang diletakkan pada ruang tamu atau ruang keluarga. "Makin mengenal arwana, saya makin keranjingan untuk mengoleksi sebanyak-banyaknya," tambah Gatot, yang tinggal di kawasan Candi Baru, Semarang.